Cerpen Istri Sang Duta, Kisah Menarik Dari Kota Kayu Agung


Cerpen Istri Sang Duta, Kisah Menarik Dari Kota Kayu Agung – Mengingat masa-masa awal diwaktu “kita” mau bikin web IndoTops.com ini, salah satu label yang kita bicarakan adalah Daerah atau Regional. Yak jadi tadi waktu saya lagi cari-cari referensi buat nulis tentang daerah asli orang tua saya, malah lupa karena keasikan baca sebuah cerpen.

Usut punya usut, halaman tertua yang memuat cerpen ini di tahun 2008. Namun ada sebuah web portal sastra yang juga memuatnya di tahun 2017. Selain 2 halaman itu saya tak menemukannya lagi, yaaa setidaknya itu berdasarkan index google.

Sebagai pembuka, saya informasikan kalo komposisi cerpen ini bergenre Discograph, Romance dan sedikit Thriller. Sangat menarik, dimana terkait dengan budaya daerah dilatarbelakangi oleh cerita seorang wanita. Hadeeh berhubung saya ga biasa nulis ulasan terkait karya apapun, jadi daripada nanti tambah ga jelas mending langsung aja baca cerpennya nih.

Judul Cerpen: Istri Sang Duta

Sumber tertua: https://rivetekaputra.wordpress.com/2008/10/21/istri-sang-duta/

Minggu lalu, suamiku menelepon melalui tetangga bahwa ia akan pulang dalam minggu ini, kalau tidak ada halangan, katanya. Singkatnya, suami ku dan dua temannya berhasil saat mintar di Brunei. Mendengar kabar ini harusnya aku bahagia, bersyukur.

Tapi entahlah. Tiba-tiba perasaanku kalut. Dengan cara apa suamiku mendapat uang? Ada bisnis khusus di Brunei atau memang keberhasilannya sebagai duta setelah keberangkatannya sebulan yang lalu?

Ya,sebulan yang lalu suamiku berangkat bersama Mang Kiyay dan Mang Jero.keduanya sudah dikenal masyarakat sebagai seorang duta, setidaknya sudah dua kali ini mereka berangkat ke luar negeri. Sedangkan suamiku baru pertama. Mereka bertiga berangkat setelah diberitahu oleh orang meta di sana.

Meskipun mereka memberitahu kepada orang lain perihal keberangkatanya untuk berbisnis atau menjadi TKI, bukan rahasia lagi alasan seperti itu di masyarakat kami. Sudah pasti, mereka pergi menjadi duta.

Aku ingat, sebagaimana para duta lainnya, sebelum berangkat kami mengadakan sedekah lepas terlebih dahulu. Kemudian, kami sekeluarga makan dan minum menggunakan piring dan minum menggunakan piring dan gelas polos berwarna putih/ bening sebagaimana petunjuk dukun, hanya nasi putih dan air putih.

Dan ketika suamiku berangkat dari rumah, kami tidak mengantarkannya. Demikian juga suamiku, ia dilarang berpamitan atau menoleh ke belakang, melihat kami, jika sudah keluar dari rumah. Sehingga satu sama lain, kami pura-pura tidak tahu.

Ah, kini, bukan karena pertanyaan dalam hatiku saja yang membuatku tiba-tiba gundah. Ini terutama karena dalam tiga malam berturut-turut aku bermimpi bertemu suamiku. Mimpinya memang berbeda-beda, tetapi ada perasaan sama manakala aku terjaga. Aku seolah-olah merasa yakin tidak akan lagi berjumpa dengan nya.

Pikiranku jadi ngelantur entah kemana. Mungkinkah suamiku dipenjara, ditangkap aparat berwenang disana? Atau lebih buruk dari itu, mungkin di tembak aparat? Atau mungkin juga suamiku ditangkap lantas di eksekusi, digantung misalnya? Soalnya dulu pun pernah terjadi ketika seorang duta dari kampungku ditangkap di Malaysia.

Konon ia dipenjara. Entah untuk masa berapa tahun. Yang pasti sudah sepuluh tahun berlalu, sampai kini orang itu malah tidak jelas kabarnya. Keluarganya sendiri sudah menganggapnya mati di sana.

Waktu pun terus berlalu, dengan penuh kecemasan kutunggu. Setiap hari, rasanya waktu berjalan demikian lambat, terasa berbulan atau bertahun. Semua ini mungkin karena aku begitu merindukan kedatangan suamiku. Aku jadi teringat ketika kami pertama kali bertemu dulu. Saat itu, secara kebetulan kami bertemu dalam acara midang. Para gadis yang ikut midang menggunakan baju kurung.

Terkait dengan  Jadwal 3 Festival Bunga Liar Bermekaran di Australia Barat

Demikian juga aku. Sedangkan para bujang menggunakan jas, termasuk dia, yang kemudian menjadi suamiku. Entah bagaimana mulanya, kami saling melirik, saling tersenyum, dan begitu acara midang bubar kami pun lantas berkenalan. Aha, ada perasaan yang tiba-tiba lain di dada ku saat itu. Mungkin dia pun begitu. Buktinya, kami dapat cepat akrab. Hari-hari selanjutnya, katakanlah, kami pun berpacaran dan mengikat janji untuk sampai ke jenjang pernikahan.

Ya, akhirnya kami pun menikah. Namun sebagai mana lazimnya adat dikampungku, setiap calon mempelai pria harus mampu membawa pintaan yang diminta keluarga mempelai wanita. Kalau tidak bisa di penuhi, perkawinan mungkin bisa gagal. Atau kalau berani, kami bisa saja melakukan setakatan. Namun pada akhirnya toh kami juga yang malu, terutama keluarga suamiku.

Karena mungkin ia akan dianggap tidak mampu dan tidak menghormati keluarga mempelai wanita. Sebab toh pada akhirnya, dalam setakatan itu pun masih ada ritual khusus yang harus dilakukan jika kami pulang ke rumah. Setidaknya, masih harus ada bawaan yang disertakan.

Teriring rasa cinta dan gengsi, kurasa, akhirnya keluarga suamiku pun memenuhi segala pintaan keluarga ku. Aku cukup mengenal kondisi keluarga calon suamiku kala itu. Karenanya aku yakin, suamiku itu meminjam uang yang tidak sedikit kepada orang lain, atau menjual sawah atau tanah milik keluarga, atau mungkin juga menjual barang berharga lain nya.

Namun aku tak mau menanyakan hal itu padanya. Aku takut nanti dia malah tersinggung. Lagi pula, hal seperi itu memang sudah biasa terjadi di kampungku. Bahkan, pesta pernikahan biasanya diramaikan juga dengan orkes dangdut, atau minimal organ tunggal. Dalam pernikahan kami pun, dulu, organ tunggal menggema sampai lewat tengah malam. Itupun tentu saja atas izin aparat berwenang.

Sehingga segalanya tampak wah di mata masyarakat. Tak peduli setelah itu membayar utang kesana kemari, atau hidup dalam keadaan pas-pasan, bahkan mungkin morat marit. Hal seperti itu sudah jadi pemandangan umum di kampungku. Dan pada akhirnya tidak sedikit juga yang menjadi duta, seperti juga suamiku sekarang ini.

Hari-hari yang kunanti akhirnya tiba juga. Ku dengar Mang Kiyay datang. Suamiku dan Mang Jero mungkin akan tiba pula dalam dua atau tiga hari lagi atau paling lama seminggu kemudian. Biasanya para duta yang berkelompok jarang pulang bersama-sama. Gunanya untuk menghindari kalau-kalau ada sesuatu hal yang mencurigakan terutama saat mereka pulang menuju tanah air.

“Lewat isya nanti malam Abah akan ke sini,” ucap santi, anak satu-satunya mang Kiyay ayng kini sudah duduk di bangku SMA kelas III. “Abah hanya pesan begitu. Bibi disuruh tenang saja nunggu.” Lanjut si gadis dengan wajah ceria. Mungkin ia senang karena dugaanku bapaknya berhasil membawa uang ratusan juta rupiah. Aku hanya mengagguk dan tidak sabar untuk menunggu waktu isya yang kurasakan begitu lama. Ah, mungkin aku yang terlalu gelisah.

Jauh lewat isya, hampir jam sembilan, Mang Kiyay datang. Sedirian. Dirumahku sepi. Kedua anakku yang duduk di bangku SMP kelas I dan III sudah tiduran di kamarnya. Aku pun sengaja tidak memberitahukan perihal kedatangan Mang Kiyay kepada adikku satu-satunya yang ada di lain kampung. Soalnya aku belum tahu kabar jelasnya tentang keadaan suamiku.

“Kami tertangkap di kantor imigrasi saat akan pulang. Mang Jero sediri ditembak petugas saat kami melarikan diri dari penyergapan.” Mang Kiyay berujar gak pelan namun jelas setelah sebelumnya berbasa-basi menanyakan kabarku dan anak-anakku. Telah kuhidangkan juga segelas kopi kental seleranya. Aku hafal bagaimana pahit atau manis kopi yang ia mau. Maklum, ia sahabat suamiku dan juga kami sudah saling berkunjung seperti saudara.

Terkait dengan  3 Cara Mencari Keyword Terbaik Untuk Postingan Blog

Dengan nada penuh prihatin, Mang Kiyay meletakkan koper kecil yang tampak masih baru, yang ia keluarkan dari tas butut yang di bawanya, lalu diletakkannya di atas meja. “Ini hasil usaha kami rata di bagi tiga.” Ucapnya sambil menatapku.

Ku tarik nafas yang terasa kian sesak. Kuusahakan membendung air mata yang siap meledak.

“Suamimu titip ini, sebagai kenangan terakhir katanya.” Lanjut Mang Kiyay sambil merogoh saku jas lusuhnya, mengeluarkan sapu tangan warna merah jambu, terus meletakkannya di atas koper, perlahan. Aku tersentak sesaat meski kucoba untuk menyembunyikan perasaan yang tiba-tiba meledak-ledak di dalam dadaku.

“Dia tidak menitip apa-apa lagi?” tanyaku sambil mengusap pipi yang kian di banjiri air mata karena aku sudah tidak kuat lagi menahannya.

“Tidak.”

Akhirnya isakkanku mengeras meski kutahan-tahan. Dada kian terasa sesak. Punggungku melompat-lompat. Kurengkuh saputangan merah jambu itu ke mukaku. Mang Kiyay hanya menatapku penuh haru.

“Aku ke belakang dulu sebentar Mang, cuci muka. Mang Kiyay silahkan minum kopi dulu.”

Aku terus ngelonyor ke dapur. Kurasakan mata mang Kiyay mengikutiku. Kaki terus kulangkahkan ke kamar mandi. Kubasuh muka perlahan. Dingin terasa. Tapi jantungku terasa kian membara. Dalam muka yang masih basah, ku yakin mataku pun tetap memerah. Aku terus kekamar. Kubuka lemari. Kuambil kecepek yang terselip di antara lipatan baju. Terus kuselipkan di punggung, di balik kebaya. Kutatap sejenak wajahku di cermin yang sudah buram. Kulihat mataku menyala, seperti bara api. Kucoba untuk menenangkan pikiran.

Aku kembali ke ruangan tamu menemui Mang Kiyay yang tengah menyeruput kopi sambil menghisap rokok dalam-dalam. Dari lubang hidungnya asap putih begitu kental.

“Terima kasih, mang.

Saya terima uang ini.” Ucapku. Setelah duduk kembali di kursi. Mang Kiyay hanya mengangguk-angguk.

Begitu kugeser koper ke hadapanku, secepat kilat tangan kananku merogoh kecepek yang terselip di punggungku. Secepat kilat pula langsung kutarik picunya, kuledakkan tepat didepan kening Mang kiyay. Mang Kiyay tersentak begitu saja, matanya melotot ke arahku bagai tak percaya dengan apa yang kulakukan.

Namun mulutnya terlambat untuk bersuara meskipun hanya sebuah jeritan. Kening yang tadinya agak berkeringat itu kini telah bersimbah warna merah segar dengan hamburan putih isi otaknya. Sebagian darah itu menyembur ke wajahku, ke kursi dan tentu saja menutupi wajah dan bagian dadanya.

Aku mencoba berdiri walau agak gemetar. Ditelapak tangan kanan Mang Kiyay tampak sebuah pistol kecil masih tergenggam. Ia pun sebenarnya tadi refleks, mungkin juga karena kaget, mengambil sesuatu dari pinggangnya. Namun ternyata gerakanku lebih cepat darinya.

Yang teringat dalam pikiranku kini, suamiku dulu pernah berpesan bahwa kalau ia tewas saat mintar karena kelalaiannya berarti tak ada apapun yang bisa di bawa. Tetapi jika ia tewas karena dikhianati kawan, setidaknya ia akan menitipkan sapu tangan merah jambu yang dulu ia bawa dari rumah.

Kulihat, kedua anakku sudah berdiri di pintu kamarnya, menatap tak percaya kearah ku. Aku terhempas lunglai di kursi dengan badan gemetar.

Kayuagung, feb-juni 2004.

Kamus Bahasa:

Bawaan/gawaan: segala sesuatu yang dibawa keluarga mempelai pria saat pernikahan sesuai yang diminta (pintaan) keluarga mempelai wanita.

Terkait dengan  Cara Membuat Website atau Blog Yang Menarik Pembaca

Duta: istilah populer di masyarakat Kayuagung Ogan Komering ilir “penafkahaan secara khusus” di luar negeri. Konon di Singapura dan Malaysia sediri dikenal dengan istilah Duta Kayuagung. Oleh masyarakat Kayuagung sendiri di kenal dengan istilah keratak. Konon cara yang mereka lakukan untuk mendapatkan uang puluhan juta sampai milyaran rupiah di antaranya dengan menukar tas korban di bank atau mencegat korban di perjalanan. Para duta biasanya mampu dengan tepat menebak berapa juta uang yang ada didalam tas/ koper calon korbannya. Para duta kebanyakan bekerja berkelompok, jarang yang beroperasi sendiri. Menurut cerita dimasyarakat, mereka pantang beroperasi di negeri sendiri dan pantang menyakiti korban secara fisik. Pada masa lalu mereka diidentikan dengan Robin hood. Namun di masa kini sudah banyak terjadi pergeseran nilai. Bahkan konon pernah juga terjadi saling bunuh di kampung sendiri karena memperebutkan uang hasil keratak.

Kecepek: senapan tradisional yang banyak di pakai masyarakat sumatera selatan yang di buat secara sederhana (dirakit sendiri). Ada yang berupa senapan laras panjang dan ada juga yang berupa senapan laras pendek/ seperti pistol. Biasanya di gunakan untuk berburu babi di ladang. Namun belakangan ini banyak disalah gukan kalangan tertentu untuk tindak kejahatan/ kriminal sehingga pemerintah setempat melarang pembuatan/ pemilikan kecepek tanpa izin.

Meta: (pemeta): yaitu seseorang duta yang pekerjaannya khusus menyelidiki segala sesuatunya tentang calon korban. Semacam intelijennya duta. Biasanya mereka berangkat terlebih dahulu ke negeri tujuan. Setelah dipastikan ada calon korban, barulah ia menghubungi temannya untuk menjalankan operasi.

Midang: pada masa lalu midang merupakan bagian dari ritual perkawinan di kayuagung, yaitu dengan mengarak pengantin keliling kampung beserta rombongan keluarganya. Biasanya juga diiringi segala bawaan dari keluarga mempelai pria. Hal ini memberitahukan kepada masyarakat bahwa kedua mempelai sudah resmi menjadi suami istri. Bahkan jika bawaannya banyak dan berharga,tanda gengsi dan kehormatan tersendiri di mata masyarakat. Pada masyarakat sekarang midang hampir tidak pernah dilaksanakan lagi di masyarakat. Kegiatan midang sudah bergeser bentuknya, yakni arak-arakan bujang dan gadis (para remaja yang masih lajang) untuk menunjukan bahwa mereka belum memiliki pasangan/ pacar. Bahkan sering juga anak pelajar SMP/SMA diikutkan didalam midang jika ada lomba busana selama arak-arakan midang. Kegiatan midang pada masa kini biasanya dilakukan pada hari ketiga idul fitri, yang biasanya di koordinir oleh Dinas Kebudayaan da pariwisata atau ketua adat di Kayuagung (Ogan komering ilir, Sumatera selatan).

Mintar: proses waktu berusaha/ beroperasi seorang duta.

Sedekah lepas: ritual khusus yang dilakukan para duta yang akan berangkat mintar. Biasanya mereka membawa beras putih (antara 1 sampai 5 canting0 dan sebutir telur ayam kepada seorang dukun/ kiai untuk minta doa selamat atau yaasin serta memberi wejangan lainnya. Misalnya hari apa mereka harus berangkat, jam berapa, serta persyarata lain yang harus dilakukan atau pantangan yang harus dihidari.

Setakatan: kawin lari. Bebiasaan ini muncul karena berbagai faktor. Diantaranya:

1. Calon mempelai laki-laki tidak bisa memenuhi pintaan keluarga mempelai wanita, sementara kedua calon mempelai saling mencintai.

2. Calon mempelai wanita sudah hamil.

Penutup

Tuh gimana gans??, entah cerita ini berdasarkan kisah nyata ataupun fiksi, saya pikir ini cerita sangat dekat dengan “Kenyataan” atau pengalaman. Uniknya lagi, jika cerita Istri Sang Duta ini berdasarkan kisah nyata, berarti sang penulis menulis didalam lapas dong. weeew sekian…


Lothbrok

"It is one thing to use a weapon, but another to kill." - Ragnar Lothbrok-------s2e2

0 Comments

Tinggalkan Balasan